Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Les Miserables, Victor Hugo, dan Kegagalan Berkali-kali Revolusi Prancis

Buruknya Revolusi Pertama Prancis

Tidak ada yang menyangkal pernyataan bahwa Revolusi 1789 di Prancis adalah suatu revolusi yang sukses. Penyerbuan Bastille, guillotine yang dipakai untuk eksekusi Raja Louis XVI dan Marie Antoinette –yang konon menyimbolkan pentingnya kesetaraan, bahkan hingga akhir hayat– , dan kebangkitan rakyat melalui Declaration des Droits de l’homme et du citoyen: semuanya sadis, radikal, dan, bisa kita katakan, berhasil.

             « Itu kalau endingnya hanya sampai di situ saja. » 

            Realitanya, setelah monarki konservatif digulingkan, Prancis masih butuh berkali-kali revolusi dan pemberontakan lagi, sebelum akhirnya benar-benar ‘merdeka’ dari dunia permonarki-kekaisaran melalui pembentukan Republik ketiganya pada 1870 . Tidak seperti Revolusi Amerika, yang hanya sekali namun berakhir stabil dalam pemerintahannya, Revolusi pertama Prancis berakhir dengan berdirinya Republik pertama Prancis yang sama sekali jauh dari frasa cukup sempurna. Pemerintahan tidak stabil dan perpecahan sosial tidak bisa dihindarkan: golongan yang borjuis minta monarki (walaupun konstitusional) direstorasi, dan yang jelata minta republik tetap berdiri. Akhirnya berdirilah kedua kubu partai : Girondin dan Montagne. Dari situ, sudah kelihatan, kan, kalau saudara-saudara sekalian ini rupanya belum bersatu ?

            Selain itu, toh, akhirnya revolusi pertama berakhir dengan naiknya Napoleon jadi kaisar Prancis. Monarki kembali lagi. Beethoven yang waktu itu terlanjur menulis ‘Sinfonia intitolata Bonaparte’ sebagai wujud kekagumannya terhadap Napoleon saat menjadi konsul (dia bilang  bahwa Napoleon adalah sosok penyelamat Prancis, dan ia lebih baik daripada sejumlah konsulat unggul Roma dahulu) menjadi marah dan merasa terkhianati, sampai-sampai mengatakan :

“So he is no more than a common mortal! Now he, too, will tread underfoot all the rights of man [and] indulge only his ambition; now he will think himself superior to all men [and] become a tyrant!,”

Sayangnya, kekuasaan Bonaparte hanya bertahan selama 11 tahun. Setelah kekalahan pada Perang Waterloo (1815) , Napoleon akhirnya ditawan oleh Inggris dan akhirnya meninggal sebagai orang buangan di St. Helena, Atlantik pada 1821. Kekosongan kekuasaan itu diisi oleh Louis XVII, dan ia pegang sampai wafatnya pada 1824. Louis XVII tidak punya anak, sehingga kekuasaan diberikan kepada adiknya, Charles X pada 1824. Di periodenyalah Prancis mengalami Revolusi Kedua.

July Revolution dan June Rebellion

Revolusi Kedua  Prancis dikenal juga sebagai The July Revolution. Revolusi ini memang belum berhasil mendirikan Republik Prancis kedua, tetapi sudah berhasil dalam menggulingkan tahta Charles X –sehingga berakhirlah kekuasaan wangsa Bourbon di Prancis. Negara diambil-alih lagi oleh Monarki Juli yang dipimpin oleh Louis-Philippe I (dia masih satu keluarga dengan Louis XVI). Pada masa ini pula terjadi June Rebellion.

June Rebellion atau Pemberontakan Juni adalah pemberontakan terakhir dari rangkaian Revolusi Kedua Prancis. Pemberontakan ini diilhami oleh kematian Jean Maximillien Lamarque. Lamarque adalah seorang politikus Prancis yang sangat pro-rakyat, dan menantang pemerintahan Louis-Philippe I, karena menurutnya, Louis-Philippe I sudah gagal dalam membela HAM dan kebebasan politik. Apalagi, rakyat sudah punya pemikiran bahwa Lamarque adalah satu-satunya orang dalam pemerintahan yang serius dalam mewakili kepentingan bangsanya.

Lamarque wafat karena wabah kolera. Ini juga menunjukkan bahwa keadaan Prancis pada saat itu memang sedang buruk-buruknya. Sistem sanitasi buruk, kolera mewabah, gap sosial antara orang miskin-kaya juga makin melebar. Kondisi ini sangat baik untuk memicu revolusi. Pasca pemakaman, kelompok Société des droits de l’homme mulai menghimpun kekuatan, terutama di kalangan pelajar, buruh, dan warga miskin.

Pada 5 Juni, tiga ribu orang menduduki distrik-distrik Paris dengan mengibarkan bendera merah –simbol Republikan. Tujuannya tentu saja untuk menggulingkan Louis-Philippe I dan mengembalikan republik. Sayangnya, pemberontakannya gagal. Pada pagi harinya, ratusan korban dari kedua kubu bergelimpangan, dan selesailah pemberontakan tersebut.

Pemberontakan Juni inilah yang diambil oleh Victor Hugo sebagai latar dalam bukunya Les Miserables. Aksi ini juga secara tidak langsung mengungkapkan bahwa, Prancis masih jauh dari merdeka dan bebas. Kenyataannya memang begitu.

The June Rebellion of 1832

Setelah June Rebellion, Prancis mengalami Revolusi Ketiga pada 1848, yang akhirnya menempatkan Louis-Napoleon Bonaparte, yaitu keponakan Napoleon Bonaparte, di atas singgasana. Dari revolusi inilah berdiri Republik Prancis Kedua, tapi, tentu saja, tidak bertahan lama karena pria ini ternyata punya ego yang sama dengan pamannya, Napoleon: Ia menyatakan dirinya sebagai kaisar pada 1857. Pasca berdirinya republik inipun, Prancis masih belum mencapai tujuan sejatinya. Republik Ketiga Prancis baru berdiri pada 1870 setelah Louis-Napoleon kalah di Perang Prancis-Prusia.

Victor Hugo dan Les Miserables

Victor Hugo

            Victor Hugo adalah salah satu penulis Prancis yang paling tersohor. Beberapa nama seperti Voltaire, Alexandre Dumas, atau Emile Zola  mungkin sudah pernah kita ketahui. Tetapi Hugo ini, juga tidak kalah terkenalnya. Seperti Dumas, karya-karya Victor Hugo juga sama-sama beraliran sastra romantisisme. Nah, Les Miserables, ini adalah magnum opus beliau.

Saya tidak ragu pasti banyak dari kalian yang sudah pernah membaca atau menonton Les Miserables. Dan mungkin kalian juga terheran-heran dan kebingungan : Revolusi Prancis mana sih yang dimaksud ? Kok enggak ada eksekusinya ? atau Loh, penyerbuan Bastillenya dimana? Tenang, kalian enggak sendiri. Awalnya saya pikir roman ini juga menyorot Revolusi Pertama Prancis. Tapi tidak, roman ini bercerita tentang Pemberontakan Juni, walaupun keterangan waktu di awal novel dimulai jauh sebelum itu –Jean Valjean jadi prisoner kira-kira di era akhir Napoleon menjelang Waterloo.

            Jadi, Les Miserables diterbitkan pada 30 Juni 1862. Secara singkatnya, roman historikal ini bercerita tentang keterpurukan rakyat Prancis di bawah kepemimpinan Louis-Philippe I, yang memicu munculnya Pemberontakan Pelajar, June Rebellion di tahun 1832. Keseluruhan, novel ini terdiri dari 1.462 halaman. Banyak ? Ya iyalah makanya saya belum pernah baca. Kalau malas membaca, mungkin kalian bisa menonton drama musikalnya, atau adaptasi filmnya (ada banyak versi, namun versi 2012 yang paling terkenal).

June Rebellion dalam film adaptasi dari musikal Les Miserables (2012)

Pokoknya, pada intinya, buku ini menunjukkan bahwa Hugo adalah seorang pro-revolusi. Ini punya cerita sendiri lagi. Hugo lahir dari Ayah yang sangat pro-Napoleon, dan Ibu yang merupakan royalis katolik. Kekontrasan ini yang menyebabkan Hugo juga sedikit bingung dalam menentukan aliran politiknya. Penahanan Lamarque, krisis Prancis 1848, dan kematian putrinyalah yang akhirnya membuat Hugo memutuskan untuk melawan pemerintah dan membela orang-orang yang berniat menggulingkan monarki.

Refleksi

            Berkaca pada sejarah banyaknya Revolusi Prancis, seharusnya kita bisa sadar bahwa kebebasan tidak akan terjadi tanpa adanya persatuan antargolongan. Tidak hanya itu, tujuan suatu negara sejatinya hanya akan tercapai apabila pemimpin dan pemerintahannya juga berintegrasi dengan rakyat. Tanpa adanya komunikasi resiprokal, pemberontakan dan penindasan akan selalu mengancam.

  « Jadi, bagaimana? Kita enggak mau mengulangi sejarah yang sama, kan?  » 

[Referensi]

Lee, Alexander, ‘Beethoven and Napoleon’, 2018

Khan Academy, ‘Les Mis and France many revolutions’ ,

Jusuf, Windu, ‘Wabah Kolera dan Hoaks Picu Pemberontakan Paris 1832’, Tirto https://tirto.id/eGsJ

Kimandita, Patresia, ‘Riwayat Si Pembangkang Victor Hugo, Google Doodle Hari Ini’, Tirto https://tirto.id/crHi

Iklan

Diterbitkan oleh solanayeon

find me in my bedroom. procastinating everything i wanna do.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: